Google+ Badge

Saturday, November 30, 2013

Foto-foto Saat Terakhir Hitler


Quote:
Sampul depan koran "Völkischer Beobachter" (Pengamat Völkisch) edisi 12 April 1945 yang memperlihatkan foto upacara penganugerahan medali untuk para Hitlerjugend yang dihadiri oleh Adolf Hitler. Ini membuktikan bahwa upacara ini tidaklah diselenggarakan pada saat ultah Hitler (20 April 1945) seperti yang selama ini banyak dikutip di media maupun internet! Di koran itu sendiri disebutkan bahwa upacara ini diadakan pada tanggal 20 Maret 1945

Adolf Hitler datang ke tempat upacara dan langsung disambut oleh "Heil mein Führer!" dari Reichsjugendführer Artur Axmann. Penganugerahan medali sendiri telah dilaksanakan beberapa saat sebelumnya oleh Axmann (perhatikan Eisernes Kreuz II klasse yang terpasang di dada para Hitlerjugend!), sementara yang Hitler lakukan hanyalah bersalaman, menepuk pipi sambil memberi selamat kepada bocah-bocah tersebut. Deretan jendela ruang makan Reichskanzlei berada tepat di belakang tangan Axmann yang terangkat. Sesudah upacara selesai, Adolf Hitler, Julius Schaub dan Martin Bormann langsung menginspeksi kerusakan yang terjadi di ruang makan. Disanalah foto terakhir Hitler diambil, tanggal 20 Maret 1945, 1 bulan dan 10 hari sebelum dia bunuh diri!




Adolf Hitler memegang bahu seorang anggota Hitlerjugend. Paling kanan adalah Wilhelm "Willi" Hübner, yang mendapat Eisernes Kreuz II klasse setelah penaklukan kembali Lauban di bulan Maret 1945. Dia bertugas sebagai pembawa pesan dan keberaniannya dalam pertempuran tersebut membuatnya mendapatkan penhargaan yang selayaknya.



Adolf Hitler bersalaman dengan Alfred Czech. Hitlerjugend yang hidungnya bertemu dengan hidung Hitler (kelima dari kanan) bernama Erwin Schiedewig




















Untuk menambah "bumbu" mengenai kontroversi foto terakhir Hitler, di atas adalah foto yang diambil di Führerbunker saat Hitler memberi selamat kepada Theodor Tolsdorff (pangkat terakhir Generalleutnant) atas penganugerahan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub, Schwerter und Brillanten ke-25 dengan disaksikan oleh Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel. Tolsdorff sendiri menerimanya tanggal 18 Maret 1945, dan biasanya ini adalah pemberitahuan yang dikirim melalui telegram. Tentunya Tolsdorff harus pulang dari front dan pergi ke bunker, yang berarti bahwa foto Tolsdorff di bunker ini diambil SETELAH tanggal 18 Maret! Mungkinkan dia diambil setelah tanggal 20 Maret, tanggal penganugerahan medali Hitlerjugend yang juga tanggal yang secara resmi dianggap sebagai saat terakhir Hitler difoto? Dahsyatnya, DISINI disebutkan bahwa penunjukan Tolsdorff sebagai Panglima LXXXII Armeekorps di Balkan sekaligus promosinya menjadi Generalleutnant berlangsung tanggal 1 April 1945. Apakah ini berarti bahwa tanggal inilah tanggal yang sama saat dia bertemu dengan Hitler di bunker Berlin?

Upacara penganugerahan ini diselenggarakan di taman Reichskanzlei (Kekanseliran) yang terletak di Voßstraße di Berlin, dan para penerimanya adalah anggota unit tempur Hitlerjugend-SS yang menerima Eisernes Kreuzes dari tangan kepala Hitlerjugend, Reichsjugendführer Artur Axmann, dan kemudian mendapat ucapan selamat dari Sang Führer. Selain film, terdapat juga enam buah foto dari upacara yang tercatat sebagai penampilan resmi terakhir Hitler untuk kamera ini. Sebagai fotografernya adalah asisten dari fotografer pribadi Hitler, Heinrich Hoffmann, dan kini foto-fotonya berada di arsip koleksi Dr. Gustav Wrangel.


Dikabarkan bahwa para anak muda tersebut berdiri selama kurang lebih sejam demi menunggu Sang Führer untuk menginspeksi mereka. Tak ada data jelas apakah para bocah-bocah pemberani ini kemudian selamat dari peperangan yang brutal. Yang jelas, salah seorang di antaranya, Armin Lehmann, selamat dan kemudian menuliskan pengalamannya di masa perang dalam sebuah buku. Lehmann tetap tinggal di Berlin sebagai staff dari Artur Axmann dengan tugas sebagai pengantar berita antara markas Axmann dengan Führerbunker. Dia juga tinggal di ruang radio Kriegsmarine untuk mengantarkan pesan-pesan radio. Setelah perang dia tinggal di Amerika Serikat. Satu yang perlu diketahui: Armin Lehmann TIDAK ADA di antara deretan Hitlerjugend yang menerima medali tanggal 20 Maret 1945, melainkan di acara penerimaan medali (juga untuk Hitlerjugend) yang diadakan tanggal 20 April 1945 pas ulang tahun Hitler di Ehrenhof, Reichskanzlei. Kedua upacara ini sering tertukar tempat dan membuat orang bingung. Satu yang pasti: upacara tanggal 20 April 1945 tidak melibatkan satu orang fotografer atau kameraman pun!


Yang menarik adalah, Lehmann mengenang bahwa dia terkejut melihat penampilan Hitler dalam upacara ini. Sang Führer tampak terlihat ringkih, lemah dan bungkuk. Tangan kirinya bergetar hebat sehingga dia menutupinya dengan selalu menyilangkannya di belakang. Dia gemetaran bukan karena takut akan pasukan Rusia yang sudah mengelilinginya, melainkan karena akibat dari gejala Parkinson yang dideritanya, yang semakin menghebat setelah peristiwa 20 Juli 1944 (Pemberontakan Stauffenberg dkk). Ini juga yang tampaknya menjadi penyebab mengapa Hitler memutuskan untuk tetap tinggal di Berlin dan tidak melarikan diri. Kesehatannya begitu buruk sehingga diragukan dia bisa bertahan apabila harus berjalan jauh atau bersembunyi di tempat sempit demi menghindari kejaran pasukan musuh.


Foto-foto di atas diambil tanggal 20 Maret 1945 (dan bukan tanggal 20 April atau pas ulang tahun Hitler seperti yang banyak diberitakan!). Tanggal tersebut juga merupakan tanggal terakhir fotografer atau kameraman Nazi mengambil gambar Hitler dalam acara resmi (bila anda melihat cuplikan filmnya, maka anda bisa melihat seorang fotografer mengambil gambar di waktu yang sama!). Setelah upacara selesai, Hitler lalu melakukan inspeksi sepintas lalu terhadap ruang makan Reichskanzlei yang terletak di sebelah taman. Para bocah Hitlerjugend sendiri sebenarnya berdiri di dasar anak tangga yang mengarah ke bagian belakang kantor Hitler yang berada berhadapan dengan taman. Setelah Hitler pindah tempat, kameraman film tidak mengikuti Hitler yang pergi menuju ke ruang makan bersama dengan SS-Obergruppenführer Julius Schaub. Foto-foto yang diambil di ruang makan, di antara puing-puing, inilah yang merupakan foto TERAKHIR dari Hitler. Sebenarnya terdapat tiga buah foto, hanya saja yang umum beredar cuma satu foto saja sementara dua lainnya jarang diketahui. Saat Hitler dan Schaub melihat-lihat bekas kerusakan yang terjadi, Martin Bormann masuk dan bergabung dengan mereka. Satu foto terakhir memperlihatkan ketiga orang ini, dan inilah yang bisa dikatakan benar-benar merupakan FOTO TERAKHIR DARI ADOLF HITLER!

Sebenarnya terdapat dua acara penganugerahan medali bagi para bocah Hitlerjugend yang hanya berselang seminggu antara satu dengan yang lainnya. Penganugerahan satu lagi dihadiri oleh Menteri Propaganda Joseph Goebbels dan mengikutsertakan pula para anggota tua Volkssturm. Edisi terakhir dari Volkischer Beobachter bertanggal 20 April 1945 juga memberitakan mengenai upacara ini. Pada saat itu koran yang merupakan corong utama Partai Nazi tersebut hanya terdiri dari satu lembar kertas yang dilipat menjadi empat halaman, dan telah seperti ini dari sejak bulan Februari 1945. Pada saat ulang tahunnya (20 April), Hitler memang mengadakan upacara penganugerahan medali bagi para bocah Hitlerjugend, hanya saja upacara tersebut diadakan di dalam Reichskanzlei dan bukan diluarnya, juga tanpa ada fotografer yang mengabadikan sehingga tidak ada satupun foto yang merekam upacara tersebut.


Supernova 1006 Bukti Perseteruan Kerajaan Sriwijaya dan Mataram Kuno

Sebuah bintang membuat gebrakan pada debutnya sekitar tanggal 1 Mei 1006, di bagian selatan konstelasi Wolf (Lupus). Tercatat menerangi langit malam di atas wilayah yang sekarang dikenal sebagai Cina, Mesir, Irak, Italia, Jepang, dan Swiss. Manusia yang hidup pada saat itupun terpesona dan mencatat peristiwa tersebut! Beberapa catatan masih ada dan dapat dibaca saat ini. Ini adalah peristiwa Supernova yang paling terang yang pernah dilihat manusia dalam sejarah yang tercatat.

Quote:
Puing-puing sisa supernova SN1006 yang terlihat saat ini
Biarawan biara Benediktin di Swiss mengagumi kecerahan bintang itu, dan mengomentari variabilitas cahayanya, "kadang-kadang melemah, kadang-kadang terang sekali, dan kadang-kadang padam" - mungkin karena kondisi atmosfer disana, dan karena bintang itu terlihat cukup rendah di cakrawala selatan.



Petroglip supernova 1006?
Astronom Cina dari era yang sama menggambarkan bagaimana cahaya supernova itu cukup untuk menerangi obyek-obyek di lapangan.

Dan pada tahun 2006, dua astronom amerika berspekulasi bahwa petroglyph (batu ukiran) yang dibuat oleh suku asli amerika yang ditemukan di Arizona, menunjukkan peristiwa supernova tahun 1006 itu.

Ukiran tersebut menunjukkan obyek yang menyerupai bintang melayang di atas simbol kalajengking. meskipun beberapa archaeoastronomers terkemuka sangat skeptis terhadap klaim ini.



Seorang dokter Mesir/Arab dan astronom Ali bin Ridwan di tahun 1006 juga mencatat bahwa "langit bersinar" oleh cahaya dari sebuah bintang, menambahkan, "Intensitas cahayanya sedikit lebih dari seperempat cahaya bulan." Dia juga membandingkan kecerahan bintang ini adalah tiga kali lebih besar dari Venus.

Bintang itu saat ini dikenal sebagai sisa supernova SN 1006, awan puing kini tampak meluas sekitar 60 tahun cahaya dan dipahami mewakili sisa-sisa dari bintang kerdil putih. Merupakan bagian dari sistem bintang biner, dimana bintang kerdil putih padat secara perlahan-lahan mengambil materi dari bintang pendampingnya. Penumpukan massa akhirnya memicu ledakan termonuklir yang menghancurkan bintang kerdil.

Karena jarak ke sisa supernova adalah sekitar 7,000 tahun cahaya, ledakan tersebut sebenarnya terjadi 7,000 tahun sebelum cahaya-nya mencapai Bumi pada tahun 1006. Sentakan gelombang pada sisa-sisa mempercepat partikel ke energi ekstrim dan diperkirakan menjadi sumber dari sinar kosmik misterius.

Para astronom saat ini mengetahui bahwa pada puncaknya, yaitu pada musim semi tahun 1006, orang mungkin bisa membaca naskah di tengah malam dengan cahayanya."


Kalau bangsa-bangsa lain di dunia mengetahui dan melihat peristiwa supernova ini di langit malam mereka, bagaimana dengan bangsa kita?

Menariknya pada abad 10 dan awal abad 11, sejarah bangsa indonesia yang diketahui saat ini adalah diwarnai oleh perseteruan dua kerajaan besar, yaitu Sriwijaya (sumatera) dan kerajaan Medang (jawa) atau yang lebih dikenal dengan kerajaan Mataram Kuno/Hindu.

Lebih menarik lagi, dalam perseteruan ini, di tahun 1006 ada istilah MahaPralaya atau Pralaya yang sampai saat ini masih menjadi perdebatan para ahli sejarah bangsa ini. Maha Pralaya ini mengacu pada kehancuran atau keruntuhan kerajaan Medang atau Mataram Kuno.

Pendapat Pertama
Van Bemmelen -geolog legendaris- menyebutkan bahwa letusan katastrofik gunung api hanya bisa terjadi jika terdapat dua faktor pendukung dalam gunung tersebut: magma yang sangat asam dan histori letusan katastrofik. Keasaman magma berbanding lurus dengan kekentalannya, dan kekentalan magma berbanding lurus dengan kemampuannya menyekap gas vulkanik. Sehingga makin asam magma, makin kuat kemampuannya menahan gas. Ini kondisi mengerikan, karena ketika batas ketahanan magma terlampaui, gas vulkanik yang tertekan hebat akan langsung dikeluarkan dengan energi yang sangat tinggi. Secara kasat mata magma sangat asam ini bisa kita lihat sebagai batu apung (pumice). Sebuah gunung berapi juga hanya akan berpotensi meletus katastrofik jika histori letusannya menunjukkan adanya peristiwa serupa di masa purba.

Menurut van Bammelen sebagian puncak Merapi pernah hancur. Kemudian lapisan tanah begeser ke arah barat daya sehingga terjadi lipatan, yang antara lain, membentuk Gunung Gendol dan lempengan Pegunungan Menoreh.



Sebagian sejarawan ada yang sependapat dengan teori van Bammelen bahwa Mahapralaya mengacu pada Kehancuran kerajaan Medang di Jawa Tengah akibat bencana alam, yaitu meletusnya Gunung Merapi secara dahsyat. Letusan gunung ini membawa malapetaka yang mematikan: gempa bumi, banjir lahar, hujan abu, dan batu-batuan yang mengerikan menimpa serta mengubur apa pun yang berada di sekitarnya, termasuk wilayah Bhumi Mataram yag berada disekitar gunung merapi (sampai saat ini belum diketahui secara pasti lokasi istana kerajaan Medang di Jawa Tengah).

Istana Medang yang diperkirakan saat itu berada di Bhumi Mataram (bumi mataram adalah nama dari daerah yogyakarta dan sekitarnya) hancur. Banyak candi-candi yang rusak (termasuk Borobudur dan prambanan) atau bahkan tertimbun debu dan pasir seperti candi sambisari dll. Tidak diketahui dengan pasti apakah Dyah Wawa (raja saat itu) tewas dalam bencana alam tersebut ataukah sudah meninggal sebelum peristiwa itu terjadi, karena raja Medang selanjutnya yang bernama Mpu Sindok, bertakhta di Jawa Timur.

Jika bencana alam yang menghancurkan kerajaan Medang di jawa tengah ini terjadi sekitar bulan Mei 1006 atau bulan-bulan sesudahnya, tentu sangatlah mengerikan suasana malam-malam pada saat itu, dimana letusan merapi yang dahsyat bergabung dengan cerahnya sebuah bintang akibat ledakan sebuah bintang 7000 tahun sebelumnya.









Pendapat Kedua
Sebagian sejarawan indonesia ada yang berpendapat bahwa menurut prasasti pucangan, Mahapralaya tahun 1006 itu mengacu pada runtuhnya kerajaan Medang di Jawa Timur yang saat itu diperintah oleh Tguh Dharmawangsa (cucu Mpu Sindok).Dharmawangsa yang saat itu sedang melangsungkan pernikahan putrinya dengan, diserbu oleh haji (gelar raja bawahan) Wurawari dari Lwaram yang diperkirakan sebagai sekutu Kerajaan Sriwijaya. Dalam peristiwa tersebut, Dharmawangsa tewas.
 .



Tiga tahun kemudian, seorang pangeran berdarah campuran Jawa–Bali yang lolos dari Mahapralaya tampil membangun kerajaan baru sebagai kelanjutan Kerajaan Medang. Pangeran itu bernama Airlangga yang mengaku bahwa ibunya adalah keturunan Mpu Sindok. Kerajaan yang ia dirikan kemudian lazim disebut dengan nama Kerajaan Kahuripan.
Jika penyerbuan haji wura-wari saat Raja Dharmawangsa menikahkan putrinya terjadi pada bulan Mei atau bulan-bulan sesudahnya, dapat dibayangkan bahwa pertempuran yang antara pasukan yang setia pada raja dan pasukan pemberontak itu terjadi dibawah sinar cemerlang hasil ledakan bintang yang meledak 7000 tahun sebelumnya. Memang dalam banyak kisah dan kepercayaan, sebuah ledakan bintang itu menandai keruntuhan atau kebangkitan sebuah dinasti atau orang besar.

Pertanyaan yang menarik adalah, sempatkah bangsa kita dahulu mencatat peristiwa ini? Mungkinkah ada prasasti yang menunggu untuk ditemukan yang mencatat cahaya bintang cemerlang di langit malam tahun 1006 Masehi tersebut? Memang problem terbesar bagi kita untuk meneliti sejarah bangsa kita adalah kurangnya catatan-catatan yang kita peroleh dari nenek moyang kita dahulu, tidak seperti bangsa China yang sampai saat ini catatan-catatan nenek moyang mereka masih banyak yang tersimpan dengan baik hingga masa sebelum masehi. Bukan berarti nenek moyang kita malas mencatat, tapi lebih karena daerah kita yang rawan terhadap bencana alam seperti letusan gunung berapi dan gempa bumi. Bencana-bencana inilah yang mungkin memusnahkan sebagian catatan-catatan nenek moyang kita, terutama yang dicatat pada daun lontar dan kayu. Hanya yang tercatat pada batulah yang kemungkinan besar masih dapat kita temukan ...





Ditemukan Rangka Naga Di Pulau Bangka.

Quote:
Selama ini Tulang Rangka misterius yang mirip naga tersebut disimpan oleh penemunya, seorang nelayan warga Desa Limus di Pulau Bangka yang pada awalnya ditemukan berada di laut pada kedalaman kurang-lebih ± 3 meter, didepan muara Sungai Nyire.
Masyarakat Pulau Bangka dihebohkan dengan penemuan tulang rangka yang diisukan sebagai seekor “Naga berkaki enam”  dan konon katanya panjangnya mencapai belasan meter.

Temuan tulang Naga berkaki enam di Bangka Selatan yang menghebohkan masyarakat Bangka dan sekitarnya ini menarik perhatian Edi Nur Cahyono, dosen FPPB UBB (Fakultas Pertanian Perikanan dan Biologi, Universitas Bangka Belitung).

Dari keterangan beberapa waktu yang lalu, dan dari analisa kasat mata, bahwa Naga yang panjangnya mencapai belasan meter ini belum dapat dipastikan apakah seekor naga ataukah kerangka ikan paus.

”Kalau naga enggak mungkin, ada kemungkinan bangkai dari ikan yang terdampar, akan tetapi saya belum bisa memberikan keterangan lebih jelas”, ujar Edi Nur Cahyono, dosen FPPB UBB.

Sedangkan Yulistyo selaku kepala Dinas DKP mengatakan akan meneliti tulang-tulang hasil temuan masyarakat Bangka Selatan (Basel) beberapa waktu yang lalu, disinyalir sebagai tulang yang mirip naga.

”Kalau memang tulang-tulang itu langka, maka akan dikirim ke museum, akan tetapi jika itu merupakan tulang biasa, maka kita akan kembalikan ke dalam laut lagi, biar jadi rumah ikan yang lain.” ungkapnya saat di hubungi via telepon.

Akan tetapi, ungkap Yulistyo sampai saat ini DKP belum mendapatkan laporan dari DKP Kabupaten Bangka Selatan.

Awal Penemuan

Lokasi kerangka tulang ada di Desa Limus, dari Toboali ke arah utara melewati daerah transmigrasi, jaraknya kurang lebih ± 15 km. Tulang-tulang itu disimpan di rumah seorang nelayan setempat sebagai sang penemu “Naga”.

Menurutnya kerangka tersebut ditemukan pada hari kelima di Bulan Puasa 1431 H (Ramadhan 1431 Hijriyah) dan berada di laut pada kedalaman kurang-lebih ± 3 meter, didepan muara Sungai Nyire.

Saat ditemukan, terlihat ada semacam pukat yang tersangkut pada sesuatu yang tersembul di atas permukaan air.

Namun setelah didekati dan ditusuk-tusuk dengan ujung dayung, ternyata benda itu adalah kerangka atau tulang yang posisinya melengkung seperti bulan sabit.

Kemudian kerangka tersebut diambil dengan angkutan perahu. Untuk kerangka bagian kepala diperlukan tenaga 15 orang untuk mengangkatnya.

Tengkorak misterius yang ditemukan seorang nelayan di Sungai Nyire, Pulau Bangka

Terdapat Bulu-bulu Pada Rangka

Menurut penuturan sang penemu pada saat terlihat pertama yang berupa pukat dan sesuatu yang menonjol, itu adalah bulu-bulu dan tanduk pada kepala kerangkan tersebut.

Tulang-tulang itu disimpan di rumah seorang nelayan setempat sebagai sang penemu “Naga”

Bulu-bulu tersebut seperti layaknya rumbai bulu pada kepala seekor kuda. Benda tersebut tidak ada di foto lantaran menurut sang penemu, setelah benda tersebut yang sebelumnya telah dilihat oleh Bapak Bupati Basel, maka tidak diperlihatkan lagi pada umum.

Sebagai yang telah melihat langsung kerangka tersebut dapat kami beri gambaran, lingkar badan “mahluk” tersebut berkisar ± 2 m dengan panjang badan ± 15 meter.

Dilihat dari bentuk kerangka kepala mengarah kepada bentuk seeokor ikan paus. Hanya pada tulang ekor yang masih terdapat sisa daging yang menempel, pada bagian tulang yang lain bersih dan berwarna putih kusam.

Tim peneliti Universitas Michigan menemukan fosil berusia 29 juta tahun di Arab Saudi.



Hingga kini, ilmu pengetahuan masih mematok bahwa manusia berasal dari kera. Padahal jenis kera-kera tersebut adalah hewan yang tak dapat berkompetisi atau beradaptasi dengan lingkungan Bumi yang kadang ekstrim, lalu kemudian mereka pun punah. Namun kita juga harus mempunyai pikiran terbuka dalam hal ini kepada para peneliti tersebut.

Seperti tim peneliti atau ilmuwan ini, menemukan tengkorak binatang berusia 29 juta tahun yang diduga sebagai nenek moyang monyet purba dan bangsa kera, manusia.

Tim peneliti Universitas Michigan menemukan fosil ini di Arab Saudi. Seperti dimuat laman jurnal Nature, fosil primata tersebut diberi nama Saadanius hijazensis.


Menurut ketua tim peneliti, Dr William Sanders dari Universitas Michigan, temuan ini luar biasa. Tengkorak yang sebelumnya tak diketahui spesiesnya ini punya beberapa fitur yang dimiliki monyet purba dan kera, juga manusia.

“Saadanius dekat dengan nenek moyang kita (manusia),” kata Sanders, seperti dimuat laman BBC. “Jika kita mengetahui tentang periode waktu dan kondisi hidup mahluk ini, kita mungkin akan menemukan apa yang membuat evolusi kera dan manusia berbeda,” tambah dia.



Dr Sanders menjelaskan, bahwa Saadanius bahkan mungkin telah menjadi nenek moyang bersama yang menghubungkan manusia dengan monyet purba.

“Tapi mungkin ada sederet makhluk di kala itu yang mirip dan salah satu dari mereka menjadi nenek moyang kita,” tambah dia.

White Faled Capuchin (cebus capucinus malpa)

Sanders menambahkan, para peneliti harus lebih melakukan eksplorasi dan mengumpulkan banyak data, sebelum membuat klaim yang lebih besar.

Meski demikian, fosil yang ditemukan tetap mengindikasikan bahwa primata tersebut tampak sangat mirip dengan monyet modern, Capuchin. Namun, ukurannya sedikit lebih besar, seperti Siamang.

Dari fosil tersebut, diketahui bahwa primata tersebut masih menggunakan empat kaki untuk berjalan di pohon.



Ketika sedang beristirahat, struktur tulang primata tersebut kemungkinan besar berbaring di pohon daripada duduk tegak di tanah.

Penemuan terbaru ini menunjukkan bahwa perbedaan evolusi kera dan monyet purba terjadi lebih cepat dari prediksi sebelumnya, 30-35 juta tahun.

Kini para peneliti membuat perkiraan baru yakni 29 juta tahun lalu. Ini lebih dekat dari perkiraan para ilmuwan, tapi tak mengejutkan bagi sudut pandang palaeantologi.

Fakta Sejarah Hitler Memasok Senjata Ke Soekarno

Sahabat dekat Presiden pertama Soekarno, Horst Henry Geerken, mengungkapkan pemimpin NAZI Jerman, Adolf Hitler, pernah bekerja sama dalam hal persenjataan. Hitler pada tahun 1940-an pernah mengirim senjata lewat kapal selam. Henry menceritakan senjata-senjata tersebut dikirim Hitler untuk Soekarno pada kurun waktu 1942 hingga 1945.

"Hitler pernah membantu kirim senjata dan alat-alat militer buatan Jerman untuk Soekarno. Senjata dikirim dengan menggunakan kapal selam. Senjata ini untuk membantu para pejuang PETA di Indonesia," ungkapnya.


Kisah pengiriman senjata dari Hitler untuk Soekarno diketahui tahun 1963. Kisah itu, kata pria kelahiran Jerman tahun 1933 tersebut, disampaikan langsung oleh Bung Karno.


"Soekarno bilang hal ini ke saya tahun 1963 hingga 1964, saat kita bertemu di Bali. Saat itu Bung Karno banyak bicara tentang politik," paparnya.

Senjata-senjata tersebut dikirim ke Jakarta, Surabaya, dan Sabang di Pulau Weh.

"Senjata-senjata ini dikirim langsung ke Indonesia dari Jerman lewat laut Atlantik, lewat Afrika, dengan menggunakan total 57 buah kapal selam," jelasnya.

Henry menegaskan, Hitler mau membantu Soekarno waktu itu karena tidak senang dengan kolonialisasi Belanda di Indonesia. Komunikasi antara Soekarno dan Hitler tidak dilakukan secara langsung, tetapi lewat perantara seorang warga Jerman yang tinggal di Indonesia.


"Waktu pengiriman senjata itu, Hitler (Jerman) sedang berperang dengan Belanda, waktu itu Belanda sedang jajah Indonesia. Jadi Soekarno minta tolong bantuan senjata kepada pemimpin NAZI Adolf Hitler lewat orang Jerman ini. Orang Jerman ini kini punya pabrik cokelat di Indonesia," jelas Henry.

Selain itu, Hitler juga kabur ke Indonesia setelah kalah perang di Jerman.

"Yang saya tahu, Hitler tidak mati di Jerman. Ia kabur ke Indonesia. Waktu kabur ke Indonesia, pelarian Hitler dilindungi oleh militer Jepang yang saat itu masih bercokol di Indonesia," tambahnya.

Kisah rahasia Adolf Hitler dan Soekarno ini, ujar Henry, akan diceritakan lebih jelas dalam buku baru yang sedang disusunnya. Buku kisah persahabatan Adolf Hitler dan Soekarno yang belum terungkap ke publik ini diharapkan akan selesai dan diluncurkan di Bali tahun ini. Untuk diketahui, Horst Henry Geerken lahir di Jerman dan kuliah tehnik di Jerman dan Amerika itu tiba pertama kali di Jakarta pada 1963 dan bekerja pada perusahaan telekomunikasi Jerman Telefunken. Henry yang memiliki hubungan persahabatan erat dengan Bung Karno itu kemudian menulis buku 'A Magic Gecko Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno'.


Misteri U-196, Kapal Selam Nazi yang Hilang di Pelabuhan Ratu


U-196 sedang mengisi bahan bakar di tengah lautan. 

Dari sejumlah kapal selam Jerman yang beraksi di perairan Indonesia, adalah U-196 yang masih menyimpan misteri keberadaannya.

Sampai kini, nasib kapal selam Type IXD2 itu hanya dikabarkan hilang di Laut Kidul (sebutan lain untuk bagian selatan Samudra Hindia).

Berbagai catatan resmi u-boat di Jerman, U-196 dinyatakan hilang bersama seluruh 65 awaknya di lepas pantai Sukabumi sejak 1 Desember 1944. Sehari sebelumnya, kapal selam yang dikomandani Werner Striegler itu, diduga mengalami nasib nahas saat menyelam.

Kapal selam U-196 meninggalkan Jakarta pada 29 November 1944, namun kemudian tak diketahui lagi posisi terakhir mereka selepas melintas Selat Sunda. Pesan rutin terakhir kapal selam itu pada 30 November 1944 hanya "mengabarkan" terkena ledakan akibat membentur ranjau laut lalu tenggelam.

Namun dari ketidakjelasan nasib para awak U-196, ada satu nama yang dinyatakan meninggal di Indonesia. Ia adalah Letnan Dr. Heinz Haake yang makamnya ada di Kampung Arca Domas Bogor, bersama sembilan tentara Nazi Jerman lainnya.

Minim catatan mengapa jasad Haake dapat dimakamkan di sana, sedangkan rekan-rekannya yang lain tak jelas nasibnya. Hanya kabarnya, ia dimakamkan atas permintaan keluarganya.

Selama kariernya, U-196 pernah mencatat prestasi saat masih dipimpin komandan sebelumnya, Friedrich Kentrat. Kapal selam itu melakukan tugas patroli terlama di kedalaman laut selama 225 hari, mulai 13 Maret s.d. 23 Oktober 1943. Kapal tersebut menenggelamkan tiga kapal musuh dengan total bobot 17.739 GRT.
Quote:

U-196 baru meninggalkan galangan kapalnya untuk berpatroli menyusuri lautan
Posisi Friedrich Kentrat kemudian digantikan Werner Striegler (mantan komandan U-IT23) sejak 1 Oktober 1944, sampai kemudian U-196 mengalami musibah sebulan kemudian.

Kendati demikian, sebagian pihak masih berspekulasi atas tidak jelasnya nasib sebagian besar awak U-196. Walau secara umum mereka dinyatakan ikut hilang bersama kapal selam itu di Laut Kidul, namun ada yang menduga sebagian besar selamat.

Konon, kapal ini datang ke Amerika Selatan kemudian sebagian awaknya bermukim di Iqueque, Chile. Dari sini pun, tak jelas lagi apakah U-196 akhirnya benar-benar beristirahat di sana, apakah kemudian kapal selam itu ditenggelamkan atau dijual ke tukang loak sebagai besi tua, dll.

Seseorang yang mengirimkan e-mail dari Inggris, yang dikirimkan 14 Oktober 2004, masih mencari informasi yang jelas tentang keberadaan nasib awak U-196. Ia menduga, U-196 sebenarnya tidak mengalami kecelakaan terkena ranjau di sekitar Selat Sunda dan Laut Kidul, sedangkan para awaknya kemudian menetap di Cile.

Keyakinannya diperoleh setelah membaca sebuah surat kabar di Cile, sejumlah awak kapal selam Jerman telah berkumpul di Iqueque pada tahun 1945. Mereka tiba bersamaan dengan kapal penjelajah Almirante Latorre, yang mengawal mereka selama perjalanan dari Samudra Hindia. Di bawah perlindungan kapal penjelajah itu, kapal selam tersebut beberapa kali bersembunyi di perairan sejumlah pulau, sebelum akhirnya berlabuh di Pantai Selatan Cile.

Yang menimbulkan pertanyaan dirinya, mengapa setelah tiba di Cile, tak ada seorang pun awaknya pulang ke Jerman atau mencoba bergabung kembali dengan kesatuan mereka. Ini ditambah, minimnya kabar selama 50 tahun terakhir yang seolah-olah "menggelapkan" kejelasan nasib U-196, dibandingkan berbagai u-boat lainnya yang sama-sama beraksi di Indonesia.

Entahlah, kalau saja Dr. Heinz Haake masih hidup dan menjadi warga negara Indonesia, mungkin ia dapat menceritakan peristiwa yang sebenarnya menimpa U-196! BTW, berdasarkan data dari Volksbund, Oberleutnant (Ing.) Dr. Heinz Haake lahir tanggal 21 Januari 1914 dan meninggal bulan November 1944 (tanpa tanggal).

U-196 sedang mengisi bahan bakar di tengah lautan. 

Dari sejumlah kapal selam Jerman yang beraksi di perairan Indonesia, adalah U-196 yang masih menyimpan misteri keberadaannya.

Sampai kini, nasib kapal selam Type IXD2 itu hanya dikabarkan hilang di Laut Kidul (sebutan lain untuk bagian selatan Samudra Hindia).

Berbagai catatan resmi u-boat di Jerman, U-196 dinyatakan hilang bersama seluruh 65 awaknya di lepas pantai Sukabumi sejak 1 Desember 1944. Sehari sebelumnya, kapal selam yang dikomandani Werner Striegler itu, diduga mengalami nasib nahas saat menyelam.

Kapal selam U-196 meninggalkan Jakarta pada 29 November 1944, namun kemudian tak diketahui lagi posisi terakhir mereka selepas melintas Selat Sunda. Pesan rutin terakhir kapal selam itu pada 30 November 1944 hanya "mengabarkan" terkena ledakan akibat membentur ranjau laut lalu tenggelam.

Namun dari ketidakjelasan nasib para awak U-196, ada satu nama yang dinyatakan meninggal di Indonesia. Ia adalah Letnan Dr. Heinz Haake yang makamnya ada di Kampung Arca Domas Bogor, bersama sembilan tentara Nazi Jerman lainnya.

Minim catatan mengapa jasad Haake dapat dimakamkan di sana, sedangkan rekan-rekannya yang lain tak jelas nasibnya. Hanya kabarnya, ia dimakamkan atas permintaan keluarganya.

Selama kariernya, U-196 pernah mencatat prestasi saat masih dipimpin komandan sebelumnya, Friedrich Kentrat. Kapal selam itu melakukan tugas patroli terlama di kedalaman laut selama 225 hari, mulai 13 Maret s.d. 23 Oktober 1943. Kapal tersebut menenggelamkan tiga kapal musuh dengan total bobot 17.739 GRT.


Ada Ratusan Ton Harta Karun Kapal Karam di Perairan Indonesia

Nelayan Temukan Kapal Harta Karun Pasca Tsunami di Mentawai
Padang, Indonesia – Nelayan menemukan kapal karam berusia beberapa abad berisi keramik hijau dan abu. Kapal ini ditemukan di pulau tempat tsunami terjadi pada tahun 2010 lalu.

Nelayan menyakini gelombang tsunami pada 26 Oktober di Kepulauan Mentawai mengangkat kapal karam 7 meter dari dasar laut, dan mendorongnya mendekat pantai, kata kepala Departemen Kelautan dan Perikanan Sumatera Barat Yosmeri.
Quote:
Kapal itu berisi pot keramik, kalung emas dan rempah-rempah yang berharga.
Selama berabad-abad perairan Indonesia merupakan rute perdagangan utama yang menghubungkan Asia, Eropa serta Timur Tengah.

Pot, kendi dan mangkuk yang ditemukan ini masih perlu diuji untuk menentukan asal dan usianya, kata Yosmeri. Namun, benda-benda itu mirip artefak abad ke-14 yang ditemukan di dalam kapal tenggelam China, tambahnya.

Kapal itu ditemukan nelayan yang tengah menyelam mencari ikan hias, Nelayan mengatakan mereka menemukan kapal kayu itu setelah melihat tiang kapal 6 kilometer dari pantai Pulau Pagai Selatan, Mentawai, kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar, tempat di mana tsunami menghantam paling parah.

Mereka menyelam ke dalam air dan kembali dengan membawa kendi dan beberapa pot yang ditemukan di lambung kapal. Sementara itu, Menurut Guru Besar Geologi ITB Rubi Rubyandini, kemungkinan tenggelam atau terangkatnya suatu benda tergantung pada perbedaan densitasnya.

Jika kayu memiliki pori-pori, maka kayu itu akan mengambang. Namun, jika pori-pori kecil maka kayu bisa tenggelam. Begitu pula dengan besi, ketika besi diberi lubang, maka besi itu akan mengambang. Ia mencontohkan, kapal laut atau kapal selam bisa mengambang karena di tengah kapal itu terdapat lubang, maka kapal bisa mengambang.

“Ketika terjadi tsunami, terdapat arus yang begitu kuat, kemudian arus melepaskan cengkeraman antara kapal yang menempel dengan tanah. Kapal terdorong oleh air, kemudian naik ke atas,” katanya

Menurut mereka, dalam lambung kapal masih terdapat banyak harta karun. Gambar artefak itu telah dikirim ke Jakarta, dan tim akan segera dikirim ke daerah itu untuk melakukan pencarian lebih luas, kata Yosmeri.

Masih Ada Kapal Harta Karun Lain di Mentawai

Menurut Geolog LIPI Herryal Z Anwar, meski tak bisa dipastikan, namun ia meyakini akan adanya kapal harta karun lain yang ada di perairan Indonesia.

Geolog ini mengatakan bahwa jika penyebab kemunculan kapal harta karun itu memang karena gempa dan tsunami, “Bisa saja muncul kapal harta karun lain”. Herryal menduga, setelah terjadi gempa dan tsunami beberapa waktu lalu, terjadi pengangkatan sebagian besar dasar laut.

Mentawai people
“Sebagian dasar laut terangkat”. Untuk itu, butuh penelitian dan penyelidikan lebih lanjut guna memastikan kebenaran kemunculan kapal lain karena kegempaan yang berlangsung beberapa waktu lalu tersebut.

Seperti peninggalan-peninggalan kapal tenggelam lain, biasanya kapal-kapal ini membawa barang asli dari negaranya.

Sementara itu, Sejarawan Radar Panca Dahana mengakui bahwa perairan Indonesia memiliki banyak harta karun. Sejak 1963-1968, harta karun itu menarik banyak pengejar harta karun. Namun arkeologi maritim Indonesia, baru dimulai sekitar 2004-2005.

“Jadi, Indonesia ketinggalan hampir 40 tahun dari pengejar harta karun,” paparnya. Dalam hal penelitian keilmuwan, Indonesia kalah dari pengejar harta karun.

Menurutnya, masih banyak kapal yang belum terungkap. Ia menyebutkan, dulunya pantai barat Sumatra menjadi lalu lintas perdagangan ramai terutama ketika banyak perompak menggangu.

Surfing in Mentawai island. Pulau Mentawai adalah salah satu tempat surfing terbaik di dunia yang membuat para “surfer” sedunia selalu berkunjung ke pulau ini.

Selain itu, pelaut atau pedagang di belahan barat di masa itu pasti akan menjumpai pantai pertama, pantai barat Sumatra.

Menurut pria yang akrab dipanggil Radar ini, daerah seperti Bengkulu, Minang, Sumbar, dan Aceh meninggalkan jejak panjang dalam sejarah Indonesia.

Namun jejak itu tak terlalu kuat dan tak bertahan lama. “Yang bertahan lama justru yang berada di Jawa”. Padahal, Jawa merupakan merupakan persinggahan berikutnya setelah Sumatra.

Banyak Kapal Karam di Indonesia Yang Belum di Explorasi. Pada Tahun 1998 Harta Kapal Karam di Bangka Belitung Dibawa ke Singapura.
Begitu banyak spot atau titik kapal karam yang membawa harta karun di wilayah perairan Indonesia.

Beberapa waktu sebelumnya pada tahun 1998, kapal karam juga berhasil ditemukan di perairan Sumatra timur bagian selatan. Tepatnya di daerah perairan pulau Bangka dan Belitung. Rencananya kapal dari daerah Arab tersebut menuju ke Cina untuk membeli banyak keramik & tembikar.

Lalu dalam perjalanannya pulang kembali dari Cina menuju ke daerah Arab, sang Kapten mencoba singgah di perairan Pulau Bangka & Belitung.

Namun justru membuat kapalnya menjadi karam karena adanya gelombang besar akibat cuaca buruk. Kapal ini karam lebih dari 1100 tahun yang lalu atau lebih dari satu millennium.

Penulis mengetahui perihal ini setelah melihat di suatu acara pada program National Geographic Channel beberapa waktu lalu.

Lalu penulis mencoba untuk meng-unggah (upload) film dokumeter tersebut ke internet agar masyarakat Indonesia dan para peneliti Indonesia serta pihak pemerintah dapat mengetahuinya.
Quote:




Karena begitu banyaknya harta karun yang ditemukan pada kapal karam di perairan Bangka-Belitung ini yang terdiri dari perhiasan, emas, pot, keramik, mangkuk dan berbagai macam lainnya, membuat penelitian memakan waktu bisa berpuluh-puluh tahun lamanya.

Harta aset bangsa Indonesia ini, kini telah dibeli dan disimpan oleh Singapore dan berada disana, terdiri dari 60.000 keramik & tembikar (belum termasuk yg lainnya) yang harga setiap kepingnya hingga ribuan dollar Amerika.

Bahkan salah seorang ilmuwan berpendapat bahwa penelitian terhadap isi muatan dan sejarah kapal ini dapat berlangsung selama beberapa generasi!

Film atau video mengenai penemuan harta karun pada kapal karam di daerah perairan Bangka-Belitung tersebut dapat anda lihat dibawah halaman ini. Sedangkan beberapa foto lainnya dapat dilihat disini.

Salah satu cangkir emas dari kapal karam Bangka Belitung

Para ilmuwan yakin bahwa harta karun peninggalan dari kapal karam di perairan Bangka Belitung ini adalah salah satu peninggalan yang paling banyak dan sangat ternilai di dunia.

Begitu banyaknya barang bawaan dari kapal yang ditemukan di perairan Bangka dan Belitung ini, sehingga untuk menyelidiki dan mendokumentasikan segala barang tesebut saja akan membutuhkan waktu ratusan tahun atau beberapa generasi ke depan!

Dan satu lagi yang perlu diingat, bahwa temuan ini baru hanya SATU buah kapal dari sekian ratus yang telah karam di perairan seantero Indonesia


Friday, November 29, 2013

DiTemukan Pedang Berlapis Emas dalam danau Di Aceh

Warga yang menemukan mengaku berawal dari mimpi, saat berada di lokasi ia melihat harimau dan lari tunggang-langgang serta setelah pedang ditemukan ada warga yang kesurupan!

Sepasang pedang ditemukan dalam rawa tempat yang sebelumnya ditemukan koin emas, di Gampong Pande, Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh. Penemuan sepasang pedang ini membuat heboh untuk kedua kalinya bagi warga Kota Banda Aceh. (baca: Misteri Keping Emas Berlafal Allah Ditemukan Warga Aceh di Rawa-Rawa )

Menurut keterangan salah seorang warga, Saiful, pedang itu ditemukan oleh seorang yang akhirnya diketahui bernama Rizwan (26), ia datang ke lokasi karena adanya berita sebelumnya, yaitu penemuan koin emas di Gampong Pande.

Warga tersebut terakhir diketahui sengaja datang dari Kabupaten Aceh Timur, asal Kota Langsa yang selama ini tinggal bersama Muslim, pamannya, di Punge Blangcut, Banda Aceh.
Quote:

Lokasi rawa-rawa tempat pedang emas VOC dan koin-koin emas ditemukan.
Penemuan Sebuah Teko

Rizwan akhirnya juga bertutur kepada Serambi , cerita awal penemuan pedang VOC tersebut, ditemani rekannya bernama Mansyur dan Muslim.

Ia tertarik datang ke lokasi yang sebelumnya tempat ditemukan ratusan keping koin emas, Senin lalu.

Semua itu karena Mansyur membawa pulang pecahan teko yang ia temukan dilokasi tersebut sebelumnya saat memburu koin emas, pada Selasa (12/11/13) siang.

Setelah melihat pecahan teko tersebut, Rizwan minta kepada Mansyur agar ia mengantarkan dirinya ke lokasi tempat teko itu ditemukan.

Permintaan itu akhirnya dipenuhi oleh Mansyur. Setelah mengetahui dan melihat lokasinya, lalu mereka pulang.

Berawal Dari Mimpi

Rizwan (26) sang penemu pedang mengaku menemukan pedang peninggalan sejarah ini setelah ia bermimpi sejak tiga malam yang lalu. Dalam mimpinya, ada yang berpesan menyuruh Rizwan untuk mengambil sepasang pedang di rawa-rawa, dikawasan Gampung Pande.

Itu sebabnya pada saat temannya bernama Mansyur menemukan teko, Rizwan minta agar temannya itu dapat menunjukkan lokasi tempat ditemukannya teko tua tersebut sebagai patokan lokasi. Namun pada saat mencari pedang, Rizwan menemui kendala, ia tak menemukan apa-apa.

“Dalam mimpi, saya disuruh ambil pedang itu untuk saya simpan dan saya rawat. Saya sudah mencari pedang itu sejak hari Rabu (13/11/2013) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, sampai pagi saya cari tidak dapat,” ujarnya.

Rizwan Penasaran, Bolak-Balik Ke Lokasi
koin-emas-aceh lokasi penemuan 2
Quote:

Hingga malam hari, warga tetap mencari koin-koin emas tersebut di rawa-rawa dengan menggunakan alat seadanya.
Terlanjur penasaran, pada Rabu (13/11/13) sekitar pukul 14.00 WIB, Rizwan mengaku kembali lagi ke lokasi dengan mengajak Mansyur.

“Lalu, siangnya sekitar pukul 14.00 WIB, saya kembali ke lokasi tersebut untuk mencari,” jelasnya.

Namun karena tak mendapatkan barang yang dia cari, Rizwan akhirnya pulang lagi.

Tapi rasa penasaran tetap menyelimuti hati Rizwan, akhirnya sekitar pukul 23.30 WIB Rizwan si pemuda nekat ini kembali lagi ke area Kuala Krueng Geudong, Gampong Pande. Kali ini bersama temannya yang lain, bernama Syaiful.

Diperingatkan Warga Setempat

Sedangkan menurut keterangan warga setempat, pada Selasa (12/11/2013) malam, warga sempat berpapasan dengan Rizwan yang mengaku dari Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.

Pemuda itu, bersama rekannya hendak melihat lokasi Kuala Krueng Geudong, tempat koin emas ditemukan. Warga setempat sudah mengingatkan agar pemuda tersebut tidak memasuki area terlarang itu.
Quote:



“Saya sempat bertemu warga. Mereka sempat ingatkan saya agar tidak masuk ke lokasi itu, karena menurut mereka kawasan terlarang. Kalaupun masuk, risikonya tanggung sendiri. Tapi saya tetap masuk,” kata Rizwan.

Warga setempat yang memperingatkan Riswan mengingatkan, kalau nekat masuk, kemungkinan tidak bisa kembali lagi atau akan berhadapan dengan hal-hal ganjil.

Menurut keterangan warga, beberapa dari pemuda itu memang langsung pulang. Hanya seorang pemuda (Rizwan) yang tetap bersikeras tetap masuk ke area terlarang itu.

Lari Dikejar Harimau Mistis

Tak lama berselang mencari di rawa-rawa, tiba-tiba Rizwan terlihat berlari kencang ke arah warga Gampong Pande, yang sebelumnya sudah mengingatkannya. Dengan sendal putus dan napas terengah-engah, si pemuda mengaku melihat sosok seekor harimau besar yang langsung mengejarnya.

Kata Rizwan, di lokasi itu ada seekor harimau yang menjaga di lokasi tersebut. Sedangkan temannya, Syaiful justru memutuskan menunggu di permu****n warga.

“Pada saat masuk ke tempat itu, saya lihat ada seekor harimau besar yang berjalan di depan saya. Lalu saya jalan lagi, tiba-tiba ada ular besar di pohon. Waktu itulah saya lari dan pulang,” kata Rizwan.

Dengan wajah terlihat pucat pasi, akhirnya pemuda itu meninggalkan Gampong Pande.

Namun akhirnya Rizwan kembali lagi ke lokasi dan berhasil menemukan sepasang pedang VOC dari hasil mimpinya itu.

“Awalnya, pedang yang ditemukan itu dimasukkan dalam karung, saat warga tanya, dibilang itu kayu,” jelas Syaiful. Karena warga semakin curiga, sebut Syaiful, lalu salah seorang warga dan termasuk dirinya merampas barang tersebut dari tangan laki-laki itu.

“Waktu karungnya dirampas, pas dilihat ada pedang, langsung kami hubungi pihak terkait dan disimpan di kantor kepala desa. Akhirnya, pedang itu berhasil diamankan warga, sedangkan Rizwan langsung menghilang,” tutur Syaiful.

Rizwan Tak Sadar Saat Menemukan Pedang

Rizwan pemuda asal Kabupaten Langsa, yang menemukan harta karun berupa sepasang pedang bertuliskan VOC dan berlapis emas pada Rabu (13/11/2013) sore, sempat hilang tiba-tiba, setelah pedang yang ditemukan disita oleh aparat Desa Gampong Pande, Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh.

Namun pada esoknya Kamis (14/1/2013) siang, ternyata pemuda itu muncul dan menemui Wakil Wali Kota Banda Aceh untuk menjelaskan kronologi penemuan pedang olehnya.

“Setelah kedua pedang itu saya temukan, saya dipergoki warga. Sehingga saya dibawa ke kantor keuchik. Begitulah ceritanya. Saya pergi, karena waktu itu, saya tak pakai baju, sehingga warga saat itu tidak sempat menanyakan siapa nama saya,” ungkap Rizwan.

“Saya saat sampai ke lokasi penemuan pedang itu dalam kondisi tidak sadar. Waktu pergi dari rumah, saya memang dalam kondisi sadar,” kata Rizwan saat ditemui di kantin samping Kantor Wali Kota Banda Aceh.

Jika pedang peninggalan bersejarah itu disita oleh pemerintah, Rizwan berharap ada penghargaan atau kompensasi untuknya yang menemukan.

“Saya harap pemerintah Kota Banda Aceh juga memugar lokasi tempat saya temukan pedang itu karena di situ ada banyak kuburan ulama Aceh terdahulu,” ujar Rizwan.

Saat Rizwan mencari pedang itu, ia sempat direkam oleh rekannya yang bernama Mansur dengan menggunakan handycam.

Dalam rekaman video saat diperlihatkan oleh Mansur kepada wartawan, terlihat mulai dari Rizwan sedang mencari hingga saat menemukan pedang.

“Ini videonya, saya sempat rekam dari awal saat Rizwan menemukan pedang itu,” kata Mansur. Namun, video utuh yang diabadikan oleh Mansur tidak diberikan kepada wartawan.

Kedua Pedang Berlapis Emas

Pedang yang ditemukan itu di gagangnya dilapisi dengan emas. Demikian juga ada tulisan VOC pada pedang tersebut. Panjang pedang tersebut diperkirakan mencapai 1 meter.