Google+ Badge

Wednesday, November 13, 2013

Prancis menggelapkan data uranium?

Sementara itu, Prancis memiliki banyak data tentang kandungan uranium Kalimantan Barat. Pihak Amerika Serikat pun mengincar potensi tambang uranium di daerah ini. Menurut mantan Chief Le Sondage (Kepala Bidang Pengeboran) eksplorasi uranium Nanga Pinoh/Nanga Ella & Nanga Kalan di Commessariats L’Energi Le Anatomique (Badan Tenaga Atom Prancis), Sunarjo M BSc, Prancis waktu itu menggandeng BATAN saat melakukan penelitian.

Menurut Sunarjo, eksplorasi dimulai pada dekade tahun 60-an. Kegiatannya merambah hingga Kapuas Hulu, Landak dan Sanggau.


Sekitar tahun 1970-an eksplorasi memasuki wilayah Nangga Pinoh. Hingga sekarang, eksplorasi uranium di Kalimantan Barat belum melangkah ke tahap lanjutan.

Membuka tambang uranium tak bisa sembarangan. Bukan seperti tambang biasa. Debu kandungan uranium itu saja tak boleh bertiup ke luar areal pertambangan. Dampak lingkungannya luar biasa.

Indonesia bisa kecolongan data mengenai potensi uranium Kalimantan Barat yang mungkin pada waktu itu banyak digelapkan oleh pihak Prancis.

Sedangkan pakar ekonomi Universitas Hasanuddin di Makassar, Sulawesi Selatan, Syarkawi Rauf pernah mengatakan, kandungan uranium di Mamuju itu mempunyai potensi terbaik di Indonesia. Oleh karena itu, Rauf meminta agar pemerintah mengelola tambang uranium itu dengan baik untuk mencapai kemakmuran rakyat, dan jangan sampai hanya menguntungkan pihak asing.

Uranium bukan hanya untuk menghasilkan tenaga nuklir—misalnya guna kepentingan pertahanan. Bahan uranium dapat dimanfaatkan untuk menambah sumber ekonomi seperti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang mendukung pasokan sumber tenaga listrik.

Beberapa daerah yang memiliki potensi uranium adalah Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua – bahkan Freeport pernah menemukan bahan uranium di daerah tambang emas.

Laju Dosis Radiasi Gamma Tercepat
Kecamatan Singkep, Kabupaten Mamuju juga menjadi kawasan yang laju dosis radiasi gamma-nya tercepat di Indonesia dibanding rata-rata nilai laju dosis radiasi Gamma di Indonesia yang 46 nSv per jam, kata Direktur Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi Batan, Susilo Widodo.

Ia mengatakan, pihaknya telah menyusun Peta Radiasi dan Radioaktivitas Lingkungan sebagai data dasar, sehingga kalau ada kenaikan radiasi yang disebabkan faktor bukan alami misalnya radiasi hasil lepasan industri atau kecelakaan nuklir, bisa diketahui dengan cepat.

Susilo mengatakan, saat terjadi kecelakaan reaktor nuklir Fukushima misalnya, pihaknya tidak mendeteksi adanya radiasi nuklir yang masuk ke wilayah Indonesia.

“Secara alamiah, radiasi nuklir dari Jepang di utara sulit menyebrang ke kawasan katulistiwa. Justru jika dilihat dari posisi dan arah angin potensi radiasi dari Jepang akan masuk lebih dulu ke Amerika Serikat dan terakhir China,” katanya.

Peta ini, ujarnya, juga penting untuk mengkaji efek kesehatan bagi masyarakat yang tinggal di daerah radiasi tinggi serta indikasi bahan tambang seperti Uranium, Thorium dan mineral sejenisnya.

Peta tingkat radiasi dan radioaktivitas lingkungan di Indonesia ini, urainya, terdiri dari lima peta, yakni peta laju dosis radiasi gamma lingkungan dan peta tingkat konsentrasi radionuklida alam Thorium-228, Thorium-232, Radon-226, dan Kalium-40 dalam sampel permukaan.

Batan juga meluncurkan URL monitor radiasi lingkungan kawasan reaktor nuklir Serpong dimana telah dipasang lima monitor gamma di kawasan itu selama 2012-2013 dan meluncurkan “GPS tracking” untuk transportasi limbah di Indonesia.
Namun diluar itu semua, langkah paling awal yang diharapkan dari pemerintah Indonesia adalah melindungi tiap aset bumi dan laut di Indonesia dari tangan-tangan asing yang tak pernah memakmurkan rakyatnya!

Jangan lagi kita kecolongan dengan perjanjian-perjanjian tambang sebelumnya yang selalu dibuat oleh manusia yang mengaku warga negara Indonesia, namun memilik mentalitas antek dan budak asing, juga para konglomerat dengan kualitas sosial rendah, yang selalu menjual dan menguntungkan pihak asing.

Sumber: Indocropcircles.com


No comments: